Banyak orang sering menganggap keluhan perut sebagai “cuma maag” atau akibat telat makan. Padahal, gejala seperti diare berkepanjangan, nyeri perut berulang, atau kelelahan bisa menjadi tanda penyakit radang usus kronis atau inflammatory bowel disease (IBD).
Ahli kesehatan pencernaan, Prof. Ari Fahrial Syam Sp.PD, K-GEH, menjelaskan, IBD merupakan kondisi ketika usus, baik usus halus maupun usus besar, mengalami peradangan berkepanjangan. “Diperkirakan jumlah penderita IBD di Indonesia sekitar satu persen dan terus meningkat, salah satunya karena pola makan yang semakin kebarat-baratan,” ujarnya dalam acara Pekan Kesadaran Penyakit Radang Usus di Jakarta (9/12/2026).
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala IBD meliputi:
Diare berkepanjangan (lebih dari 4 minggu)
Nyeri atau kram perut
BAB berdarah atau berlendir
Penurunan berat badan
Beberapa pasien juga bisa mengalami demam, nyeri sendi, gangguan kulit, atau pertumbuhan lambat pada anak-anak. Karena gejala IBD mirip dengan kondisi lain, seperti wasir atau masalah pencernaan ringan, pemeriksaan mendalam oleh dokter spesialis sangat dianjurkan.
Dua Jenis IBD
IBD terbagi menjadi dua jenis, yakni kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Perbedaannya:
Kolitis ulseratif: peradangan terjadi pada lapisan dalam usus besar.
Penyakit Crohn: bisa menyerang seluruh saluran pencernaan, paling sering di ujung usus halus dan usus besar.
Di Indonesia, kasus kolitis ulseratif lebih sering ditemukan. Gejalanya kadang mirip dengan usus buntu, sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan seperti patologi anatomi atau CT-scan untuk memastikan diagnosis. Kolonoskopi menjadi salah satu metode utama dalam penegakan diagnosis IBD, meski fasilitas ini belum tersedia di semua rumah sakit.
Penyebab dan Pengobatan Jangka Panjang
IBD tidak memiliki satu penyebab tunggal, melainkan faktor genetik, pola makan, gangguan mikrobiota usus, dan respon imun tubuh. Secara sederhana, IBD bisa disebut sebagai “autoimun lokal” karena tubuh menyerang usus sendiri.
Tujuan pengobatan adalah meredakan gejala, mencegah perburukan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Meski sebagian besar pasien di Indonesia tergolong ringan, gejala sedang hingga berat dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Contohnya, Steven Tafianoto Wong, terdiagnosis IBD saat berusia 16 tahun. “Gejalanya sangat mengganggu sampai berat badan turun 20 kilogram dalam dua bulan dan saya harus cuti sekolah 1,5 bulan untuk fokus pemulihan,” katanya.
Pengobatan IBD tidak menyembuhkan secara total, tetapi pasien bisa mencapai kondisi remisi, di mana gejala tidak muncul selama bertahun-tahun. Terapi yang tersedia mulai dari obat oral hingga terapi suntik biologis untuk kasus sedang hingga berat. Terapi biologis bekerja lebih spesifik, namun tetap harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan arahan dokter.
